Sabtu, 09 Januari 2010

Orang Asing Yang Membangun UAE (1)

Di sini, ada asumsi " Kalau orang Asing pergi dari UAE, maka Negara itu akan mati seketika". Pertama kali mendengar itu, langsung mengalir pertanyaan. Apa benar itu? Kalau benar kemana Orang pribuminya? Orang asing mana yang paling awal masuk sini?

Melihat di lapangan, asumsi itu memang benar. Kurang lebih 80 % persen, pengelola Negara ini adalah orang asing, baik dari segi kuantitas kependudukannya, ataupun dari segi kualitasnya.

Melihat kuantitas, memang 80 % persen penguhuni UAE adalah orang asing, baru 20 % orang pribumi, dengan prosentasi seperti ini, maka layaklah kalau dikatakan bahwa urat nadi UAE adalah orang asing yang menjalankan usaha atau menjadi tenaga kerja di sini. Bagaimana mereka akan menjalakan perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri tanpa bantuan orang asing, orang pribumi aja tidak cukup menjalankan banyak perusahan sebanyak dan sebesar yang ada di UAE sekarang.

Perlu diketahui, UAE adalah Negara yang gemar untuk menimbun laut dengan batu dan tanah agar bisa memperluas Negara ini, kegemaran lainnya adalah, meratakan padang pasir dengan buldoser-buldoser besar yang kemudian disulap menjadi gedung-gedung perbelanjaan besar dan metropolis. Maka tidak heran bagi orang yang dulunya mungkin pernah kesini di masa 90 an kebelakang atau 2005 kebelakang, akan terkejut dengan perubahan-perubahan yang ada.

Pesatnya pembangunan di mana-mana juga membuat kota ini menjadi kota yang multicultural, semua Negara datang, tidak lain dan tidak bukan hanya demi uang. Uang dan uang. Dengan visi dan misi yang sama, mereka bisa bekerja sama membangun UAE dengan tanpa mereka sadari.

Dan dua yang saya yakini dari ini, adalah kemakmuran rakyat UAE baik pribumi atau orang asing, membawa keamananan dan kesejahteraan penghuninya. bagaimanapun perbedaan yang terjadi, entah itu perbedaan politik, agama, suku, negara. jika sudah ekonomi makmur, maka perbedaan akan tenggelam di tengah kemakmuran hidup itu.

kedua, kalau kita sudah punya visi dan misi yang sama, dan dengan tekad yang kuat, maka kita akan meraih kesuksesan, mungkin di negara kita indonesia, mereka para pejabat tidak mempunyai visi dan misi yang sama, sehingga akan menjadi perusak kemurnian visi dan misi itu. seperti mereka para pendatang di UAE membawa visi dan misi yang sama dan komitmen yang kuat, bahwa mereka hanya ingin uang ke UAE.

Diberitakan dulu, pernah ada peraturan bahwa orang India yang ingin masuk ke UAE digratiskan, mereka bisa pergi ke Negara ini kapan saja mereka mau, asalkan dengan tujuan yang jelas. Diberitakan juga bahwa ketika itu, Presiden Syeikh Zayed, pendiri Negara UAE menyadari bahwa Negara India mempunyai potensi besar untuk di jadikan partner membangun Negaranya. Maka diberlakukanlah peraturan itu.

Dengan sumber alam minyak bumi yang kaya serta perpaduan pekerja dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, maka UAE menjadi seperti sekarang, konon, Negara ini adalah Negara Hollywood – nya arab atau "pusat perekonomian Arab". Ikonnya adalah Dubai, sayang Dubai saat ini masih mengalami sakit parah pasca tragedy tabrakan ekonomi yang tidak seimbang.

Sakitnya Dubai tidak menambah wibawa Negara UAE turun, karena system Negara sini adalah system federal. Jadi sakit dubai tidak otomatis menular ke Abu Dhabi, Abu Dhabi malah menampung pengangguran atau pengusaha atau para ahli Dubai bekerja di Abu Dhabi. Dan saham-sahampun banyak dibeli oleh Abu Dhabi. bahkan pembangunan di Abu Dhabi semakin marak...

Memang isu keretakan antara Dubai dan Abu Dhabi sempat gencar, tapi isu itu hilang dengan sendirinya dengan aksi Abu Dhabi menalangi beberapa proyek dubai yang sempat macet. Disertai dengan beberapakali deklarasi dari wakil presiden dan penguasa dubai sendiri Sheikh Maktum Al Rashid, bahwa dubai dan Abu Dhabi adalah satu. We are the one.

Bersamabung…

Tidak ada komentar: