Pertama calling visa, iya, aku datang pertama kali ke Abu Dhabi dengan calling visa dari sebuah Company kecil ; Ideal Vision. Company tersebut bergerak di bidang real-estate property, namun bukan seperti real-estate dengan bangunan-bangunan baru yang mewah semisal Burj Dubai, tapi ini adalah bangunan tua, yang insyaallah aku perkirakan akan runtuh 5 tahun lagi, atau kalau memang memaksa untuk tetap di-rent-kan yang otomatis akan dihuni oleh pe-rent. Maka 3 tahun lagi akan roboh dengan sendirinya.
Nah aku di sana sebagai bagian administrasinya, kalau ada yang menyewa dari dua building kepunyaan Ahmad Khaili (Empunya building, bosku), maka akulah yang mengguide mereka, memperlihatkan Flat-Flat yang kosong, hatta sampai harga Flat itu berapa.
"I Take it" kalau sudah keluar kata-kata itu, barulah aku akan minta persetujuan bos, Flat itu akan diambil bos. Enam bulan aku di sana, tapi karena alasan ini dan itu (sorry aku gak bisa menyebutkan), maka akupun resign, dan sampailah di Indonesia tanggal 7 agustus 2009. dengan Singapore airlines Alhmadulillah bisa langsung landing di Surabaya, Juanda. Ibu, mbak, kakak ipar, ponakanku, menyambutku dengan pelukan hangat.
"Iam Coming Indonesia"
Dua bulan di Indonesia, mengaji, mengajar, orator (khusus bulan puasa atau pas jumatan). Terharu karena adikku menikah, Silaturahmi kerabat dan family, baca buku (Novel, agama) liat even2 besar, berkunjung ke tempat pariwisata dan bersejarah, mencoba mendengarkan lagu Dangdut Rhoma Irama, ziarah ke makam (bapak, om, mbah) approaching for girls, but shit, untuk yang satu ini is failed (kurang bakat). Ada sih satu yang at least close to be serius-lah, tapi entah sekarang, gak ada kabar lagi tuh. DKK, DLL.
Kedua kali datang, dengan Visit Visa. Setalah satu bulan menunggu, visaku jadi, Menjadi employer sekaligus mendapatkan employer visa memang tidak gampang. Aku harus ke Bahrain, exit ke Bahrain, baru setelah semalam di Bahrain akupun balik ke Abu Dhabi dengan visa baru dan pekerjaan baru.
Satu hal yang aku dapatkan dari Bahrain, sesuatu yang baru buatku " Bahasa Ketiga Setelah Inggris Arab di Airport International Bahrain adalah Urdu " Mungkin inilah efek nyata dari dominasi orang-orang India, Bangladesh, Pakistan, Nepal di Bahrain, atau karena factor lain, biarlah….
Sekarang aku punya pekerjaan baru, di Popular Typing. Kantor kecil yang menyediakan segala macam pengetikan, dengan Bahasa inggris dan bahasa arab. Tantangannya berstatus "gampang-gampang susah" seperti aku harus lebih cepat mengetik lagi, lebih banyak lagi memahami kosa kata inggris atau arab, memahami system visa di Abu Dhabi (karena pembuatan visa di Negara ini lewat online, tapi harus lewat kantor-kantor typing), memahami costumer (zabun) yang datang dengan bermacam status (urgent atau tidak) DLL. Tapi sobat! Perlu kau ketahui aku memang suka sesuatu yang baru, termasuk tantangan baru ini. I love My Live
Pekerjaan Baru
Berlomba Dalam Kebaikan di Bulan puasa
Kebaikan di dunia menembus batas waktu dan tempat, kapanpun dan di manapun akan mendapatkan pahala dari Tuhan. Karena memang agama islam sendiri adalah kebaikan. Jadi jelas perintah agama agar kita selalu melakukan bahkan berlomba-lomba dalam kebaikan “fastabiqul khairat”.
Dalam konteks bulan Ramadhan, kebaikan mendapatkan porsi lebih dari Allah SWT. Itu terlihat dari dilipat gandakannya pahala dari segala kebaikan, menjadi sepuluh kali lipat bahkan tujuh ratus kali lipat pahala, lebih dari hari-hari biasanya. Tentu dilipat gandakannya ganjaran ada sesuatu yang istimewa dalam pandangan Allah, yaitu bulan Ramadhan itu sendiri.
Kalau kita telisik lebih dalam lagi, maka kebaikan di sini memiliki dua sisi yang tak boleh dipisahkan. Pertama kebaikan hubungan kita dengan Allah (hablum mina allah), kedua kebaikan hubungan kita antar sesama manusia (hablum minan nas). Di sini perlu dicatat bahwa kebaikan kedua bukan hanya antar sesama muslim tapi antar sesama manusia. Sesama makhluk tuhan, bukankah tuhan memang menciptakan menusia berbeda-beda, karenanya Allah di dalam Al-quran menyuruh kita dengan kalimat (liyata’arrafu) yang artinya saling memahami perbedaan antar satu dan yang lain.
Kebaikan kita dengan Allah, bisa dilakukan dengan kita terus mengaji, berdzikir, dan menunaikan sholat secara teratur di masjid ataupun di rumah-rumah. Lebih baik lagi mengaji dilakukan tidak sekedar membaca, tapi juga mengkaji tentang isi Al-Qur’an, mentadaburi apa yang ada di dalam Al-Qur’an, tujuanny hanya satu, yaitu agar kita tahu isi kandungan Al-Qur’an itu sendiri dalam bahasa qur’an(liyatadabbarul quran).
Dalam hal bedzikir juga, kita bisa melakukannya di mana saja, baik di kantor, di pasar, ataupun di ladang. Rosulullah di dalam menyambut bulan ramadhan menganjurkan kita untuk banyak beristghfar, memohon ampun atas segala dosa. Di dalam Al-Qur’an juga di sebutkan agar kita selalu berdoa sesuai apa yang kita inginkan kepada Allah, yang artinya “ Kalau seandainya hambaku bertanya padamu (Muhammad) tentang diriku, maka sesungguhnya aku dekat, dan saya akan mengabulkan panggilan mereka jika mereka memanggilku atau meminta sesuatu padaku” (Al-Baqarah, bab puasa)
Itulah beberapa contoh tentang kebaikan dengan Allah sebagai tuhan yang telah menciptakan kita. Ada beberapa hal yang perlu di catat sekaligus menjadi pertanyaan bagi kita. Apakah hanya dengan iming-imingan pahala kita mau melakukan kebaikan? Apakah seandainya tanpa iming-imingan pahala kita juga mau melakukan kebaikan?
Menurut analisis penulis, sebetulnya bentuk pahala yang dijanjikan Allah berlipat-lipat itu ditujukan untuk orang-orang awam, yaitu anak kecil atau orang yang tidak terlalu mengerti tentang agama. Dengan tujuan bisa memotivasi mereka meningkatkan kualitas dan kuantitas orang awam dalam beribadah. Sedangkan untuk orang khawas (orang tahu agama), maka iming-imingan pahala sudah tidak diperlukan lagi, karena sebetulnya kebaikan itu hanya mengharapkan ridhonya (kecintaan tuhan padanya) dan bukan semata-mata hanya mendapatkan pahala. Pendapat ini didasarkan pada selalu disyaratkannya ikhlas dalam setiap kita melakukan kebaikan (ibadah).
Kecintaan itu (mengharap ridho) itu bisa kita dapat dari sosok seorang robiah al-adawiyah. Seorang sufi ternama dari bashra. Beliau sosok perempuan sufi yang sangat mencintai tuhannya, seolah-olah tidak ada kekasih lain kecuali Allah baginya. Ini tercermin di dalam banyak Syair-syairnya yang sangat sensitif sekali terhadap persoalan mengharap ridha kekasihnya, yaitu Allah. Salah satu syair yang berhubungan dengan itu bisa saya sebut di sini :
(Kalau aku menyembah-Mu karena takut daripada api nereka-Mu maka biarkanlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada Syurga-Mu maka haramkanlah aku daripada-Nya! Maka jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku pada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-MU yang maha besar dan maha mulia itu)
Kedua, kebaikan hubungan kita dengan sesama manusia. Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam hubungan kita antar sesama manusia, jujur, ber-etika, tolong menolong, toleransi dll. Ambil saja satu hal, toleransi (At-tasamuh), ada dua hal: pertama, toleransi antar ummat islam yang berbeda tafsiran dalam beberapa hal. Kedua toleransi kita antar ummat beragama yang berada di indonesia, baik dengan kristen, bhuda, hindu, konhuchu dll.
Di era delapan puluh sampai sembilan puluhan, ummat islam mengalami perpecahan sangat dahsyat, dari kelas atas lebih parah lagi di kalangan kelas bawah. Persoalannya hanya persoalan furuiyah belaka, suatu hal yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan akidah. Tapi kelompok-kelompok itu malah saling mengkafirkan antara satu dengan yang lain.
Sample sederhana terjadi di daerah penulis sendiri. Kelompok yang tidak menganut qunut waktu itu mengklaim bahwa merekalah paling diterima sholatnya oleh Allah, sedangkan yang kelompok satunya kafir, tidak sah sholatnya. Demikian juga sebaliknya. Hal-hal seperti inilah yang terjadi di era itu. Terang sekali, bahwa toleransi mahal sekali harganya.
Memasuki tahun dua ribuan,alhamdulillah ummat islam mulai sadar bahwa persoalan-persoalan ikhtilaf furuiyah tadi hanyalah persoalan kecil, ada persoalan yang lebih besar,yaitu membangun bangsa, kala itu bangsa kita berada dalam posisi transisi politik yang kalau ummat islam tidak bersatu akan terjadi pertumpahan darah. Maka muncullah poros tengah yang puncaknya melahirkan gusdur sebagai pemimpin bangsa, meskipun pada akhirnya tidak berjalan mulus. Di sini terlihat jelas, bahwa toleransi (politik) saat itu melahirkan kekuatan besar di dalam islam.
Selanjutnya toleransi antar ummat beragama, bulan ramadhan adalah bulan suci dan bulan penuh rahmat. Momen yang tepat untuk memupuk tali persaudaraan antar ummat beragama. Asal mereka menghormati kita, maka kita harus hormati mereka. Bukan malah melakukan tindakan anarkis seperti yang dilakukan oleh sebagian teman kita, dengan melakukan razia berlebihan, aksi itu menurut penulis bukan malah mencerminkan bulan puasa itu penuh rahmat, tapi sebaliknya, mencerminkan bahwa bulan puasa itu penuh dengan kekerasan, dan aksi konvoi norak dari ummat islam.
Bulan puasa adalah kesempatan bagi ummat islam untuk merepresentasikan islam yang damai, islam yang bisa menahan hawa nafsunya dari tindak anarkisme dan tindak kekerasan. Bulan ummat islam untuk melakukan kebaikan dalam bentuk toleransi bagi ummat manusia di bumi. Jangan lupa bahwa kita hidup di bumi indonesia dengan hukum demokrasi, bukan hukum islam, dengan banyak agama, bukan hanya satu agama. Toleransi adalah jawaban final atas kebhineka tunggal ikaan indonesia sampai kapanpun.
“La ikraha fiddin ” tidak ada paksaan dalam agama, “lakum dinukum wali yadin” untukmulah agamamu, untukkulah agamaku. Dua ayat tadi cukup bagi ummat islam untuk tidak melakukan pemaksaan bagi pihak lain untuk mengikuti apapun yang diyakini mereka. Oleh karena itu, hak-hak agama lain harus juga kita hormati serta kita jaga. Bukankah di zaman nabi ummat yahudi dan ummat nashara juga mendapatkan perlindungan dari beliau. Itulah bukti kebaikan dalam bentuk toleransi yang dilakukan rosulullah buat pemeluk agama lain.
Wallahu a’lam bissowab
Cita-cita dan pemuda
Waktu masa sekolah dasar,saya pernah bertanya pada ibu "bu, apakah semua orang cita-citanya harus sama?" ibuku yang capek dari pulang bekerja, sambil tersenyum menjawab "tidak, setiap orang mempunyai keinginan dan cita-cita masing-masing".
Dari situ kemudian aku mengerti mengapa ibu guru di sekolah selalu menanyakan cita-cita pada setiap anak, seringnya satu kelas ikut-ikutan ketika ditanya cita-cita dia, termasuk aku sendiri. Dengan demikian aku harus punya cita-citaku sendiri.
Kulirik ibu "menurut ibu apa sih cita-citaku?", beliau kembali tersenyum, "loh gimana cong, cita-cita itu bukan datang dari orang, tapi dari diri kamu sendiri. ibu tentu tidak tahu, mau jadi apa ibnu kalau sudah besar!, tapi apapun cita-citamu, harus bermanfaat bagi dirimu dan orang lain"
Mendengar ini, melintas di kepalaku bayangan omku yang jadi tentara, mungkin jadi tentara enak, tegap, gagah, dan yang penting ditakuti orang. lalatpun terlihat enggan menyentuhnya. lima orang dari keluargaku jadi tentara. ketika mereka pulang pada masa lebaran, disitulah kebahagiaanku, karena aku bisa berjalan bersama mereka dengan perasaan bangga dan sedikit arogan, seolah-olah aku berkata "inilah omku tentara, dan aku ponaannya".
Malamnya, di pelataran rumahku, aku bertanya pada bapak, “apa sih cita-citaku pak?”. Bapak yang wataknya agak keras,workerholic, pecinta keluarga, tapi selera humornya cukup tinggi, beliau melirikku sejenak. Jawabannyapun sama seperti ibu, bahwa cita-cita itu berasal dariku bukan dari orang lain, namun beliau menambahkan “kau harus lebih baik dari bapak”.
Kini, aku berumur 25 tahun, umur yang cukup untuk mendewasakan diri, cukup untuk mendengar bisikan tuhan, cukup untuk mendengar bisikan kasih sayang kekasih dari jauh seberang indonesia, cukup untuk jauh dari hal-hal buruk keremajaan, cukup untuk dibilang pemuda. Pemuda yang tegap, pemuda yang cinta keluarganya, pemuda yang mencintai kekasihnya dengan sepenuh hati, menunggu dengan sabar dengan berkata “aku menunggumu kasih, dua tahun lagi”, pemuda yang lebih baik dari bapaknya, dan pemuda yang bermanfaat bagi sesama manusia.
Wajah Flexible
Tiga bulan di Abu dhabi, saya merasa heran, mengapa orang-orang selalu mengira bahwa saya dari negara lain bukan indonesia. Padahal kedua orang tua saya berasal dari indonesia. Dan ketika saya tanya tentang asal-usul keluarga, tetap saja tidak ada keturunan non indo.
Kenyataan bahwa sebagian orang dalam beberapa kesempatan tidak percaya ketika saya jelaskan bahwa saya dari indonesia, seringkali membuat saya jengkel tak karuan. Karena sudah saya terangkan berkali-kali tapi masih belum percaya juga, bahkan demi dalil, saya berbicara bahasa indonesia, tapi mereka tetap unbelief. Akhirnya, ketika mereka tidak percaya lagi maka saya misuh-misuh pakai bahasa madura biar puas hehehe, “patek jieh, tak partajeh”.
Beberapa hari ini saya dengan iseng mencoba mencari pokok permasalahan, karena bagi saya, indonesia adalah ibu pertiwi, saya merasa bangga ketika saya disebut orang indonesia, karena memang saya orang indonesia. Yes iam indonesia, Bangga....
Saya mulai, Dari rambut? seperti rambut orang umumnya, jadi tidak ada masalah. Kulit? memang indonesia asli, sawo matang hehehe, tak ada masalah. Tinggi badan? seperti tinggi orang asia, tidak ada masalah. Bentuk Wajah, nah ini dia yang menjadi masalah.
Wajah memang biang kerok dari kekacauan ini, saya sendiri tidak tahu untuk menilai bentuk wajah saya bagaimana, tapi nyatanya, sudah banyak orang bertemu saya, ada lima wajah yang mereka sebutkan: pertama, philipine. Dua, pakistan, ketiga bangladesh dan keempat nepal. Kelima india. Apakah kesimpulannya wajah saya flexible? “no,but confuse huahauha” jawab alan teman dari philiphine itu sambil tertawa puas. Potangnamo (kurang ajar dalam bahasa philiphine) Alan!!!!
Dalam beberapa hari ini juga saya mencoba mengklasifaksi tempat dimana saya sering
disebut bangladesh atau negara-negara non indo itu.
Pertama, di restoran bangladesh dan toko-toko milik orang bangladesh, maka disitulah saya sering divonis sebagai orang bangladesh. Bahkan hampir dipastikan setiap saya masuk ke toko-toko itu untuk membeli alat-alat kantor mereka akan memakai bahasa bangladesh kepada saya tanpa mengklarifikasi lebih dulu dari mana saya,sayapun geleng kepala tak mengerti sambil menjelaskan bahwa “sorry iam indonesia”. Alhamdulillah beberapa dari toko bangladesh itu sekarang tahu bahwa saya dari indonesia.
Kedua, ketika berjalan ke plaza atau mal-mal di sini, atau ketika saya berada di kantor atau ketika saya menaiki taksi. Di tempat-tempat inilah saya sering divonis dari philipine. Saya mempunyai beberapa penglaman lucu menjadi tersangka sebagai orang philipine.
Suatu hari, orang philiphine datang ke kantor mungkin ingin menanyakan sesuatu. Di kantor hanya ada saya sendiri, sedangkan bos dan sekretarisnya keluar pergi ke bank. Tiba-tiba orang philiphine itu bicara cepat, panjang lebar dengan bahasanya mengarah kepadaku, setelah selesai bicara, saya hanya nyengir dan geleng-geleng sambil mengatakan saya bukan philiphine. Orang itu kaget “Syu hadza? Artinya, apa ini? Kamu bukan kabayan (kabayan adalah kata lain dari orang philiphine), Saya kira kamu dari philiphine” sambil tersenyum dan merubah bicara dengan bahasa arab. Dalam hati saya “huahaua kasihan deh lo”.
Ketiga, ketika mengecek pekerja atau tukang, saya sering disebut sebagai orang nepal. Saya tidak heran dengan anggapan ini, karena para pekerja kasar dan tukang-tukang yang bekerja pada kantor ini semua dari nepal. Jadi orang menganggap yang mengawasinya juga orang nepal.
Keempat, perlu diketahui sebagian besar para pengemudi taksi di Abu dhabi adalah orang Pakistan, ketika naik taksi inilah kadang-kadang saya diajak bicara bahasa Pakistan oleh sebagian pengemudi dari Pakistan. Terkadang juga ketika ada orang yang datang ke kantor ingin menyewa flat atau kamar, mereka sering menanyakan kepada saya memakai bahasa Pakistan atau urdu.
Dari sana kemudian timbul hasrat saya untuk belajar sedikit-sedikit bahasa urdu, yaitu bahasa orang-orang pakistan. Kurang tahu gimana sejarahnya, yang jelas,Negara seperti Bangladesh, Pakistan, atau Nepal semua mengerti dan bisa berbicara dalam bahasa urdu. Dengar-dengar dari seorang teman Nepal, ya itu tadi. mereka yang tahu bahasa urdo adalah Negara pecahan india (kurang tahu ini benar apa tidak). Dan sekarang sedikit-sedikit tahulah bahasa urdu, kalau hanya sekedar say hallo.
Banyaknya jumlah pendatang dari india, Bangladesh, Pakistan, Nepal, membuat bahasa arab ammiya emirates sedikit tercampuri oleh bahasa urdu ini. Pas pertma kali saya mengira bahasa arab ammiyah sini sama dengan bahasa arab amiyh mesir, tapi nyatanya tidak, sudah ada kotaminasi urdo di sana. Contoh, bahasa arab sampah kalau di mesir adalah “zabalah” di sini berubah menjadi kacara, kata ini berasal dari prosakata urdu.
Kelima, india, seperti juga Pakistan, cuman yang ini lebih sedikit, tiga kali saya dituduh orang india, pertama, suatu hari ketika di kantor, kedua ketika naik taksi, dan keempat ketika membeli obat teman yang lagi sakit di apotik.
Namun selain wajah,permasalahan nomer dua dan saya cukup menyadari ini adalah sedikitnya orang Indonesia di sini, terutama yang kaum laki-laki. Mayoritas yang pekerja Indonesia di sini adalah wanita, dan itupun bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Sungguh sekarang saya lagi mencari solusi bagaimana caranya ketika orang melihat saya pertama kalinya, langsung di cap sebagai orang Indonesia, tapi sampai sekarang saya belum mendapatkan solusi itu.
Taza
Sebuah tempat makan modern semisal KFC, menu makanannyapun serupa, meskipun ada sedikit yang berbeda. Sudah empat kali saya kesini, dan dua kali ke KFC. Kenikmatan memang berbeda, terutama kegurihan ayamnya, di sini betul-betul gurih. Dan itu juga yang menjadi alas an pertama saya dan teman2 memilih untuk makan malam di sini.
Alas an kedua adalah, taza memiliki price yang lebih murah ketimbang KFC, kalau seandainya kita bisa menyantap makanan yang lebih enak dan lebih murah dengan jenis yang sama, maka kita akan lebih memilih yang murah tapi berkualitas. Wah kalau bicara murah, saya teringat ketika mahasiswa dulu, di mesir. Ketika itu apapun yang kita beli haruslah yang paling murah, meskipun kualitas tidak sama, tapi yang penting jenisnya menyerupai.
Ghofar, teman saya, nama yang tidak begitu asing dalam bidang shoping, apalagi kalau belanja dan terlibat tawar menawar, pasti ghofarlah yang akan menang. Tempat favorit shoping dia juga ternama, yaitu pasar tradisional atabah, pasar yang memiliki nilai historis bagi rakyat mesir, karena konon dari tempat inilah tradisi kafe di mesir bermula.
Tapi sebetulnya bukan hanya ghofar yang memiliki kelihaian dalam tawan menawar atau membeli bahan yang serba murah, bisa dibilang semua kalangan mahasiswa di mesir hamper rata, bahkan konon mahasiswa di mesir dijuluki mahasiswa “kullu hagah biginih”. Tapi memang ahli menawar yang paling lihai yang pernah saya lihat adalah ghofar. Mungkin kalau dia ada di sini bersamaku tadi malam ketika di taza, maka harga yang sudah dipatok di dinding itu akan ditawar juga sama dia. Hehehehe
Taza, memang tidak semashur KFC, si jago ayam goring yang terkenal dan berada di mana-mana itu. Tapi saya tidaklahmemakan mereknya tapi memakan ayamnya, mana yan g lebih enak itulah pilihan saya. Lagi pula kemashuran itu sering menipu dan itulah saya kira yang dibuat prinsip bagi china untuk membuat produk-produk imitasi dengan merek sama. Coba seandainya dia membuat merek baru pasti tidak akan laku.
Alhamdulillah di sini, produk china tidaklah sebanyak di dua Negara yang pernah saya singgahi sebelumnya, yaitu Indonesia dan mesir. Di sini produk china cenderung dimarginalkan, sehingga tidak terlalu terjual bagi masyarakat sini. Setahu saya kalau anda membawa barang ke abu dhabi dengan produk china dan dijual di sni maka barang itu tidak laku atau turun harga 70 persen. Untuk Sementara ini saya kagum pada masyarakat sini, karena mereka tidak mementingkan kemurahan tapi lebih kepada mutu, tapi seandainya kalau ada produk yang lebih murah tapi dengan jenis dan kualitas yang sama, pasti kita akan membeli itu seperti taza dan KFC ini.
Selain itu, salah satu alas an saya mengapa tidak makan KFC adalah sebagai seorang muslim yang cinta saudaranya di gaza, maka saya turut berduka cita dan mengambil langkah kongkrit yaitu tidak memakan produk amerika itu. Meskipun kita berdua (saya dan om aris) dan teman satunya Kristen, tapi teman saya setuju dan sepakat bahwa kita ikut berduka dan reaksinya adalah memboikot makanan amerika Negara penyokong Israel itu, paling tidak untuk kita bertiga.
Taza adalah kedai modern yang memiliki pengunjung dari berbagai jenis, baik orang bermobil atau penumpang taksi seperti kita bertiga ini, baik dari bangsa asia, sampai eropa, apalagi dari arab sendiri selalu bertaburan. Enaknya tempat ini adalah kenyamanan kita, tidak terlalu resmi dan tidak terlalu serampangan, biasa-biasa aja, jadi kita bisa nyaman berekspresi dalam makan.
Untuk saya dan aris, karena berasal dari tradisi mahasiswa yang sama yaitu pernah tinggal di buust (asrama mahasiswa asing Al-Azhar) yang sedikit liar dalam menyantap makanan, tentu tempat ini sangat nyaman. Kadang saya dan om aris balapan dalam menyantap makanan hamper tidak bernafas sama sekali, tapi itu toh tidak mengganggu orang lain dan orang lain tidak pernah menertawakan atau menegur kita. Saya bisa menyimpulkan bahwa dalam tempat ini, berlaku prinsip urusan kamu ya urusan kamu, urusan saya ya urusan saya.
Di KFC sendiri saya mempunyai pengalaman tidak mengenakkan ketika di kairo. Nadhief teman saya satu ini suatu hari begitu baik mengajakku untuk makan di KFC ,tapi yang saya rasakan ketika itu bukanlah hakekat makan, tapi hakekat gaya, keren, dll karena makan di KFC, itu yang saya dapatkan. Apalagi ketika itu orang-orang begitu berisik memelototin kita berdua, jadi saya dan nadhief terpaksa merubah gaya makan, dari liar menjadi lunak. Sungguh hakekat makan tidak saya rasakan di sana,selain itu nadhief ketika itu hanya membelikanku porsi kecil bukan porsi jumbo, ditambah ketika itu dia pura-pura lupa tidak membawa uang, waduh,jadinya saya juga yang bayar.hehehehe
Taza, terletak pas di jantung tengah kota abu dhabi. Jadi lalu lalang mobil bisa kita lihat dari jendela. Setiap saya makan pasti saya akan memilih tempat paling pojok dan paling pinggir, karena dari sana saya bisa melihat tanda-tanda kebesaran Allah, berbagai jenis mobil berlalu lalang, dari mobil yang tidak pernah saya lihat di dua Negara sebelum ini, seperti ferrarii dan berbagai jenis mobil modern lainnya. Berbagai jenis manusia dan berbagai jenis profesinya juga saya temukan dari jendela itu, apalagi perempuan liar, mata ini betul-betul jeli, serasa sudah terlatih, hehehehehe
Taza, Insyaallah kamis malam depan saya akan kembali...
Tahun baru di Abu dhabi
Empat tahun saya merayakan fenomena tahun baru lepas dari hikuk pikuk terompet dan kemewahan-kemewahan tahun baru lainnya. Terakhir kali saya merayakan dengan seorang teman pondok, ahmadi, ketika itu saya menjadi ustad, kabur malam-malam ke pamekasan dan ikut merayakannya dengan terompet dan konvoi.
Empat tahun di kairo sebagai pelajar, maka saya merayakannya dengan hanya merenung dan berkomitmen untuk lebih baik di tahun selanjutnya. Sekarang jalan hidup berbelok , saya di abu dabi sebagai pegawai kantor di cv kecil di kota ini, jadi perayaan tahun baru tentu berbeda.saya pergi ke cornice dengan seorang kawan saya dari kairo dan seorang lagi dari philipine, dan saya merayakannya dengan menyantap nikmat ayam KFC.
Perayaan memang boleh berbeda, tapi mengenai perasaan saya merasakan sama saja. Semalam ketika jam dua belas tiba, oh saya terangkan dulu yang ini, cornice adalah pantai yang ditata rapi dengan latar belakang gedung-gedung modern abu dabi, pantai itu menjadi indah baik malam atau siang, tempat ini mempunyai cukup luas trotoar sehingga setiap orang bisa melakukan apa saja di sana, baik pacaran atau membaca buku sambil menjemur badan, biasanya kalau pagi atau sore akan dipenuhi oleh orang-orang berohlaga, sungguh tempat ini sangat indah sekali.disana juga terdapat taman indah.
Nah di taman pantai cornice itulah pas jam dua belas, saya kemudian mengancungkan kedua tangan saya ke atas, berteriak sedikit , berusaha menanamkan komitmen lagi, bahwa tahun ini harus lebih baik, saya harus meningkatkan yang sudah baik, saya harus memperbaiki yang belum baik, dan saya harus merevolusi yang buruk ke jalan yang baik.
Tidak lupa saya juga bersukur kepada tuhan telah memberkatiku, memberiku banyak berkah, memberiku banyak pengalaman hidup, Indonesia- kairo-emirates semoga yang pernah saya alami di tiga Negara ini menjadikan saya lebih matang dalam mengatasi permasalahan hidup.
Saya juga, menyadari bahwa tahun ini tentu tidak akan lepas dari masalah, masalah akan dating, masalah terus menimpaku menimpa orang-orang tercintaku, tapi bagaimanapun saya harus tetap mencintai hidup ini, meskipun sesekali harus melawannya dengan keras.
Pada taman cornice itu, saya berangan akan menjadi seperti keluarga india itu, mereka membawa mobil ke taman bersama seluruh keluarganya, berkumpul, berteriak berasam, meniup terompet bersama ketika jam dua belas, setelah itu bersalam-salaman, mengucapkan happy new year, may you will be succes bergantian,betapa menyenangkan hal itu.
Di taman cornice juga saya tidak ingin menjadi wanita itu, wanita yang nangis mengemis-mengemis meminta kasih orang lain, iya dia diputus atau ditinggal pacarnya.sungguh kasihan wanita itu, sungguh, tanggapku kepada teman philipine.
Tapi teman philipine yang setiap mau ke diskotik mengajak saya itu malah tidak setuju, dia malah bilang, really stupid this girl, too much other man, why he doesn’t loking for secondly, the world is wide, crazy. Katanya menutup tanggapanny padaku.
Kami betiga menjadi tersenyum, bahkan om aris teman Indonesia sama-sama jurusan kairo ini menambahkan dengan bahasa ingrris yang fasih, iyah tuh, kan banyak cowok, ada ibnu, ada alan, aris,mengapa dia masih mengemis-ngemis seperti itu, bodoh.
Kami jadi tertawa, betul,kata saya, tidaklah saya perlu kasihan pada orang-orang itu, orang pengemis hidup, orang tak punya akal, orang yang mengemis cinta kepada manusia, orang yang tidak mau berusaha memakai otaknya,tapi bagaimanapun saya menilainya, tetap saja wanita yang saya kira dari philipine itu duduk di balik dinding taman yang asri dengan air mancur buatan sambil menangis mengemis cinta. Dan saya tidak mau jadi seperti dia.
Di taman itu pula, seandainya saya tidak bisa bersama dengan keluarga, saya berangan mau tinggal di hotel itu, hotel bintang lima yang dipenuhi dengan bir-bir, yang dipenuhi dengan wanita-wanita kelas atas, terutama Lebanon, karena saya sendiri mempunyai kenanangan physologi indah dari wanita Lebanon di sini.Hotel yang dipenuhi dengan fasilitas-fasilitas terbaik,biarlah sesekali saya menjadi miliyunier tapi bukan dengan cara si Bernard itu, menipu banyak orang.
Saya ingin memiliki kekayaan hanya dengan usaha saya sendiri,hanya dengan karakter hidup saya yang begitu mencintai hidup,jadi biasalah kalau kehidupan juga mencintai saya dengan memberi saya banyak keberuntungan. Dan terakhir, karena saya masih mencintai Allah,bahkan lebih mencintai daripada sebelumnya.
Tapi, anganan saya ini tidaklah untuk 2009 seperti halnya yang terhias lewat lampu yang menghiasi hotel itu, anganan saya untuk masa selanjutnya, unuk tahun-tahun berikutnya, apalagi bisa membantu saudara2ku di palestina.
Di taman ini saya tidak mau berangan menjadi orang-orang pakistan atau banggali yang hanya mengitari hidup di situ-situ saja, seperti yang saya lihat sekarang, mereka hanya berjalan mengitari taman ini, tanpa ada tujuan. tidak ada visi, tidak komitmen, tidak ada gairah, mereka hanya pasrah pada hidup mereka sekarang, tukang sampah tetap tukang sampah.
Kalau saya, saya ingin merubah keadaan, saya ingin mempunyai visi lebih tajam, sikap pantang menyerah,dan apapun hasilnya, karena kebetulan saya adalah muslim yang berakal, tentu saya akan mengatakan “ masalah hasil tergantung pada usaha kita, kalau kita sudah berusaha 99 kali tapi tetap negative, baru kita bisa mengatakan bahwa itulah takdir, kalau masih usaha kita satu kali atau dua kali namun negative, janganlah anda mengatakan bahwa inlah takdir, karena berarti menghina tuhan, dan itulah tanda-tanda orang kalah ”
Frey chiken yang kami take away dari KFC semakin menipis yang kemudian habis, saya rasa demikian juga hidup yang penuh dengan detik, menit,jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, akan semakin menipis yang kemudian akan usai juga. Pandai-pandailah dalam berhidup ibnu, jangan tundukkan kepalamu sedikitpun, semua masalah akan usai juga! Saya berucap pada diri sendiri.
Jam dua belas setengah, makanan itu habis, dan itu semua hanya angan-angan entah konyol atau tidak. Kami berjalan ke halte, rencananya mau menunggu bus gratis tapi berhubung tahun baru, bus itu out of service duluan,alternative kedua dan memang ini satu-satunya alat transportasi selain bus gratis itu yaitu taksi.
Tidak butuh waktu lama kami menyetop taksi, kami langsung mendapatkan taksi dengan merek mobil bmw dan sopir hindu dari Nepal yang bercerita tentang kawin kontraknya. betul2 melegakan dan mengasikkan karena tidak perlu lama2 duduk di halte dan bisa langsung pulang sambil mendengarkan kama sutranya orang nepal.hehehee
Selamat tahun baru 2009-1430
Kue*
Terkadang manusia hanya menyisakan keyakinan untuk hidup tanpa suatu apapun. Demikian juga dengan diriku saat ini, hanya keyakinan yang sedang aku jadikan payung menghadapi panas dan hujan dalam hidup.
Meskipun keadaan terus berkerut, tapi kehidupan harus tetap berlanjut. Uang seribu yang dulunya sangat berarti buat diriku, sekarang menjadi barang mainan anak kecil di sekolahan, tanpa mendapatkan sesuatu apapun. Hanya keyakinan, itulah mungkin satu alasan buatku mengapa aku harus tetap bertahan untuk hidup.
“Dimas!, kemari bantu ibu.” Suara yang sangat kental dengan kue. Ya! Untuk menutupi kehidupan hidup kami. Aku dan ibu berjualan kue, berkeliling dusun menjajakan apa yang dapat kami jual, kue!.
Jalur kami selalu bergantian. Kadang ibu ke timur dusun aku ke barat, atau kalau ibu mau ke barat aku gantinya ke timur. Cara kami menjual kue dengan berteriak keras, “kue-kue” Dengan harapan orang yang mendengar akan tertarik kemudian membeli.
Setiap kami menjajakan, melewati dua dusun sudah selelesai, itupun kalau nasib sedang baik. terkadang lima dusun juga kami tempuh kalau sudah nasib tidak berpihak pada kami. Jalanan yang kutempuh ,aku anggap sebagai titian hidup permanen, karena dengan kue ini aku bisa merasakan kehidupan. Tidak ada istilah masa kecil ataupun remaja buatku, semua hanya aku dan pekerjaan menjajakan kue.
Ketika kue habis terjual, maka adik kecil yang masih kelas enam SD itu akan berlocat riang gembira. Dia akan berkata, “Hore..hore.. kakak hebat, bisa menjual habis kue, wah kakak hebat ya!.”
“Ternyata kau juga merasakan nasib adikku” Sambil kuelus kepalanya kemudian kudekap dengan rasa iba. Sekecil itu dia harus merasakan nasib seperti ini, masa kecil kurang bahagia.
Demikian juga ibuku, dengan alas kaki yang sudah mulai lusuh akibat terjalan batu jalanan, ibuku masih tetap semangat untuk hidup. “Kaki yang sudah mulai kurus dan kriput” Kataku pada ibu suatu ketika, tersenyum. Setiap pulang dari menjajakan kue dan memasuki pekarangan rumah warisan almarhum ayahku, maka selalu aku dapatkan ibu tersenyum sumringah pada kami. Selanjutnya dia akan mengabari sesuatu tentang jualannya pada kami, aku dan adik. Demikian tiap hari, selalu tersenyum.
Suatu ketika, kue kami tidak satupun terjual. Sepulangku, aku menangis, umurku memang sudah menginjak usia sembilan belas tahun, tapi mungkin karena baru sekali itu aku merasakan nasib buruk semacam ini, jadinya air mata tak terasa mahal lagi buatku.
Kureka-reka mungkin ada sesuatu yang kurang dari kueku kemarin, tidak semuanya berjalan seperti biasa, bahkan aku pulang lebih awal. Ah..mungkin hari ini orang dusun sudah bosan dengan jualanku, masih ada hari esok, lirihku dalam hati.
“Mengapa menangis kak?” Adik kecilku bertanya penasaran dari belakang. Setelah melihat kue yang masih tersusun rapi seperti waktu pagi diapun melanjutkan, “kok kuenya tidak berkurang sama sekali kak?” Kemudian dia berlari menangis tersedu masuk ke dalam kamarnya. Waktu itu akupun terkejut, aku hapus sisa air mata kemudian menyusul masuk ke dalam kamar.
“Linda kenapa?.” Tanyaku halus.
Dia masih tersedu dalam keadaan telungkup, tubuhnya yang masih kecil terus melekat pada kasur. Tangisannya semakin menjadi ketika aku merayunya dengan membelikan sesuatu, biasanya aku membelikannya mainan.
“Bagaimana kakak akan membelikanku mainan, jualannya juga tidal laku, darimana dapat uang? “ Suara itu menusukku.
“Terus kenapa linda menangis?.” Suaraku mulai agak mengeras
“Maafkan linda kak, selama ini hanya bisa membuat kakak dan ibu mananggung nasib tanpa bisa membantu apapun” Ucapnya sambil memeluk tubuhku.
“Hidup kita sudah terjadi linda, kamu belajarlah terus, biar kakak dan ibu akan terus membiayaimu sekolah. Nanti, setelah kamu kuliah, aku dan mungkin ibu ingin sekali menghadiri acara kelulusanmu, ketika itu kamu bahagia, ketika itu juga kamu akan belajar mandiri” Ucapku pada adikku mungil.
“Ayo!! kita tunggu ibu di luar, mungkin kuenya habis terjual.”
Di teras luar rumah, aku dan linda menunggu, kami berdua guyonan untuk saling menutupi kesedihan yang baru saja terjadi. Berbagai mainan kami gelar, silih berganti kami menang dan kalah, tapi adikku banyak menangnya, semoga saja dia selalu menang dalam hidupnya kelak, batinku.
Matahari sudah mulai menghilang, bulatannya hanya tinggal separuh tertutup bukit. Di mana ibu, tanyaku dalam hati. Biasanya, jam empat waktu paling akhir buat ibu, meskipun kuenya laku atau tidak. Kami terus menunggu, sampai azan maghrib tiba. Lampu- neon di jalanan sudah mulai menyala, demikian juga dengan rumahku.
“Kemana ibu ya kak, jam segini juga belum datang?” Adikku mengawali.
Rasa khawatir aku coba reda. Jawaban yang aku lontarkan pada adikku sehalus mungkin.
“Mungkin, dia bertemu teman lamanya di jalan” Lontarku sambil mengharap tidak ada khawatir lagi tentang ibu. Ketika itu juga, aku teringat ibu mempunyai penyakit sesak nafas, semenjak lima tahun yang lalu ditinggal ayah ibu mulai merasakan penyakitnya itu. Mungkin ibu sedang terkapar dijalanan, rasa takut sudah merasupiku.
Aku masih duduk di teras, kala itu, dengan keyakinan aku berharap ibu masih sehat dan selamat, Dengan keyakinan aku berharap jualan yang ibu bawa terjual dan bisa dibuat biaya bulanan adikku, sudah dua hari dia terlambat membayar.
Lampu neon sudah mulai menguasai malam dengan cahanya, aku masih menunggu di beranda rumahku, kulihat linda yang sedang memasak di dapur. Anak itu sungguh rajin, beruntung ibu melahirkan dia, bukan seperti anak pak lurah yang manja. Atau, apa mungkin keadaan akan mengubah tingkah laku seseorang?. Tidak, adikku adalah linda, dia dilahirkan untuk kami, dia rajin, dia adalah emas, dia akan memenangkan kehidupan masa depannya dengan keyakinan. Aku percaya tuhan masih adil terhadap kami.
Kutatapi jalanan sekali lagi, berharap ibu datang. betul, di sudut jalan ada bayangan perempuan, dia berjalan lemas, ada kegundahan di dalam cara perempuan itu berjalan. Perempuan dengan jualan, di atas kepalanya ada kue kehidupan. Aku yakinkan bayangan itu adalah ibu, aku keluar halaman rumah dengan rasa ingin tahu.
“Ibu” Kulihat tubuh ibu, penuh keringat, seperti orang yang baru saja melakukan perjalanan jauh. Aku bantu membawakan tempat kue di atas kepalanya. Aku lihat kue itu masih tersusun rapi tak terjual.
“Maafkan ibu nak! Tugas seorang ibu tidak dapat aku kerjakan dengan baik sekarang, bagaimana denganmu?” Tanya ibu berharap, wajahnya terhiasi dengan senyuman, senyuman yang sungguh menyimpan banyak kepedihan.
Sambil memasuki ruang tamu, aku dan adikku membopoh ibu yang agak mulai lemas tak bertenaga. Dia kemudian bertanya kembali.
“Maaf bu! Akupun juga sama, kue itu tidak satupun terjual” Jawabku singkat
Ibu memelukku, tiga mata sekaligusi menangis. Aku, Adikku juga demikian, ibupun sama.