Kamis, 17 Maret 2016

Nasehat kecil bagi mereka yang masih di rumah mertua

Satu, persiapkan mental, jangan terlalu sensitif dengan pembicaraan mertua atau orang lain di sekitar kalian, anggap mereka tidak pernah ngomong, dan jadilah kalian sendiri, jangan pernah menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan mereka. karena kalian akan melakukan sesuatu dengan terpaksa, atau kalian akan melakukan sesuatu dengan perasaan tidak enak dan tidak nyaman karena mertua yang nyuruh, bukan dari hati tulus kalian. So, pastikan bahwa kalian adalah diri kalian bukan orang lain.

Kedua, harus lebih bisa untuk berkompromi, bukan berarti kalian pasrah pada keinginan mertua, tapi kalian juga harus sadar bahwa kalian ini kan kasarnya “numpang” di rumah mertua, jadi level keinginan kalian dikompromikan dengan keadaan di rumah mertua. Misalkan, hari sabtu kamu ada jadwa latian futsal bersama teman-teman, tapi kebetulan di rumah kamu ada acara keluarga atau acara pengajian, dalam kondisi seperti itu lebih baik kalian tidak usah main dulu, tapi bantu-bantulah sedikit mertua, jangan sampai kita terkesan kurang menghargai mertua dengan tetap keluar untuk bermain futsal. Jadi inilah kompromi, bukan berarti mengalah ya.

Ketiga, latih kesabaran dengan mengontrol emosi, biasalah di dalam keluarga itu pasti ada semacam kondisi dimana kalian akan mengalami sedikit miskomunikasi dengan mertua, maka di waktu itu kalian enaknya bermain defensif  tahan offensife, sabar dengan menunggu kesempatan kapan kiranya keadaan itu bisa kalian atasi. Contoh yang pernah saya alami sih, di pagi hari halaman terlihat kotor, sedangkan kondisi saya tidak enak badan, maka saya tidak bisa menyapu sebagaimana hampir saya lakukan tiap hari. Melihat halam tak tersapu mungkin mertua kesel, maka mertua marah kepada anaknya dengan sedikit menyinggung saya sih “kamu nanti kalau kawin repot kalau tidak terbiasa menyapu”. Mendengar itu sempat emosi sih, tapi langsung saya kontrol emosi dan dengan menunggu dengan sabar. Alhamdulillah sore harinya kita kembali seperti semula. Karena yakinlah bahwa emosi itu hanya sekejap selanjutnya akan seperti biasa.

Keempat, usahakan jangan menunjukkan kelemahan dan sikap slengean di depan mertua, apalagi kalian sebagai pria, tunjukkan bahwa kalian memang mampu menjaga putrinya dengan baik dan bertanggung jawab. Jangan suka dengan mudah menerima pemberian mertua bahkan orang tua kalau tidak dalam keadaan terpaksa, karena dengan menerima pemberian itu kalian masih butuh bantuan. Sikap itu secara langsung akan membuat profile kalian sedikit turun. Bersikaplah di depan mertua sebagai lelaki jagan terlalu banyak bicara dan jangan terlalu pelit bicara, standar aja.

Kelima, kalian harus kenal karakter masing-masing mertua dan anggota keluarga lainnya, setelah kalian tahu baru bisa mengambil langkah strategis dalam berkomunikasi dengan anggota keluarga, tapi dalam bingkai kalian tetap menjadi diri sendiri, karena ada beberapa kasus miskomunikasi memang disebabkan oleh kurang mengenalnya sifat dan karakter masing-masing, sehingga bertabrakannya cenderung mudah.
Keenam, kalau sudah terjadi miskomunikasi yang begitu parah, cara ampuh lainnya adalah kalian menggunakan istri sebagai mediator untuk mengetengahi diantara dua ego dan sifat yang sedang berkonflik, kalian tinggal curhat ke istri, sehingga istri bisa menyampaikan dengan baik apa maksuda dan kemauan kalian kepada orang yang kita konfliki.

Insyaallah dengan langkah-langkah ini akan kehidupan kita di rumah mertua akan lebih baik lagi.

Selasa, 15 Maret 2016

Mecca dari takut menuju harapan



Ketika istri mengandung anak saya yang kedua sitti sarah mecca panggilannya mecca itu diliputi rasa tidak percaya dan cemas. Tidak percaya karena memang kami tidak merencanakan punya anak lagi, sedangkan umur anak kami yang pertama masih kurang lebih 2 tahun, kasihan istri repot mengasuh dua anak. Rencana kami ketika anak pertama berumur 5-7 tahun  baru proses penghamilan lagi, sebagai manusia saya dan istri tentu bertanya protes kepada tuhan, mengapa kok dikasih titipan anak lagi, bahkan kami punya pikiran untuk menggugurkan anak itu. Ada alasan mengapa kami ingin menggugurkan, 1. Karena kami sedikit malu, karena ketika ada orang mengandung sedangkan anak yang satunya lagi belum berumur maka cenderung dinilai negatif, sampai sekarang saya tidak tahu mengapa. 2. Karena alasan ekonomi kami yang masih belum mapan, dan lagi kerepotan yang akan dikerjakan oleh istri saya. Sedangkan saya ngajar dengan gaji yang tidak seberapa.

Cemasnya, rasa cemas juga datang ketika kandungan pertama, takut tidak lengkaplah anggota tubuhnya, takut operasi, takut idiot dls. Ketakutan kami itu memang berasalan, karena menurut orang kedokteran kawin antar sepupu berpeluang menyebabkan anaknya lemah otaknya, untuk mempunyai orga tubuh yang tidak lengkap sangat besar peluangnya. Ketakutan-ketakutan seperti itu yang membikin rasa cemas gelisah datang lagi kepada diri kami. Belum lagi beberapa aksi kekagetan yang ditunjukkan oleh sebagian anggota kami, seakan melengkapi kecemas yang kami selimuti.  

Jadi hamilnya istri untuk anak kedua ini memang satu fase ketidak percayaan dan kecemasan, yang kami lakukan hanyalah tawakkal, terus terang rasa gembiranya saya tidak segembira ketika kemal lahir, sungguh, rasa bangga saya sebagai bapak ketika istri melahirkan anak kedua tidak sebangga ketika anak pertama kami lahir, mungkin karena yang lahir anak perempuan sedangkan harapannya anak laki-laki lagi. Namun alhamdulillah fase itu bisa saya dan istri lewati. Dengan doa dan kesadaran bahwa inilah titipan allah dan tidak boleh kami acuhkan.

sekarang mecca sudah menjadi anak cerdas dan tidak cengeng seperti abang kemalnya, baru berumur 1,5 tahun dia sudah bisa mengerti apa yang kita suruh,bisa berjalan lebih cepat dari abangnya, dia sudah bisa bernyanyi walaupun terpenggal-penggal, dia sudah bisa menirukan video anak kecil yang dia tonton. Sungguh sangat membanggakan, sungguh sangat memberikan harapan bahwa anak ini anak yang bisa membanggakan kedua orang tuanya insyaallah.