Sabtu, 09 Oktober 2010

Masa Peralihan

Tiga belas tahun, ya selama tiga belas tahun saya keluar dari rumah dan desa ini. Mungkin hanya sesekali saja saya mudik, itupun ketika liburan dan dalam momen2 tahunan tertentu. Awal perjalanan setalah lulus SD (Sekolah Dasar) di mulai dari “Asrama Sekolah” di SLTP Muhammadiyah 1 Pamekasan. Tiga tahun tinggal di sana, walaupun dekat, tapi aturan dan kegiatan asrama tak memperbolehkan saya lantas bebas pulang tiap hari.

Di asrama, saya diarahkan untuk menjadi kader Muhammadiyah yang baik dengan segala kegiatannya. dari situ juga saya merasakan masa peralihan, dari anak desa menjadi anak kota, dari masa permainan ke hal yang sedikit lebih serius, dari masa bersama family ke kesendirian yang terkadang terselimut kerinduan pada keluarga, tak heran jika saya sering menangis pada masa-masa itu.

Kemudian, persinggahan kedua adalah PP AL-AMIEN PRENDUAN. Pada masa ini sangat berat sekali. Bahkan saya sempat membenci almarhum bapak karena beliau selalu memaksa saya untuk mondok. Oh…mengingat itu (maafkan ibnu bapak). “Kamu Mati di Pondok ini saya ikhlas cong, tak ada pilihan lain buat kamu selain mondok” ucap bapak ketika saya hamper tiap hari menelpon untuk mengadu sama ibu karena tidak kerasan. Saya mondok lima tahun dengan pengabdian.

Di pondok ini, saya diarahkan untuk menjadi muslim yang baik, muslim yang toleran, muslim lintas mazhab, muslim yang menekankan islam sebagai rahmatan lil alamin, muslim yang tidak gaptek dan kuper, muslim yang modern. Awal pertama, saya mengalami masa transisi itu, dari pergaulan lingkup kecil menjadi lebih luas, dari semi disiplin menjadi high disiplin dengan pengawasan dari peraturan dan ketatnya pengawasan dari pengurus pondok, dari banyak ketidak tahuan diri menjadi tahu diri, sesekali saya menjadi idealis. Tapi yang terpenting di sini, saya lebih tahu arti hidup di sini, di pondok ini, baik dengan membaca atau mendengar tausiah dari kiai.

Tangga hidup selanjutnya adalah Cairo Mesir, Al-Azhar University. Tahap ini saya anggap sebagai tahap pematangan. Sebaliknya, tidak ada kesedihan apapun ketika saya mau kuliah ke kairo. Saya merasakan nikmatnya merantau, saya merasakan apa yang saya benci dulu “mondok” dalam artian belajar hidup, belajar mandiri. Apalagi ini luar negeri…hu…senang sekali.

Alhamdulillah, kuliah berjalan dengan mulus dan bisa lulus tepat waktu. banyak pengalaman menarik di mesir, pengalaman bersosialisasi dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara, pengalaman akademik dan ritual, seperti bagaimana saya pernah kena tipu tiket laga Ahly Vs Barcelona oleh teman sendiri orang mesir, bagaimana berinteraksi dengan teman-teman dari kulit benua hitam (afrika), ada juga sedikit pengalaman cinta di sana, tapi selalu kandas..hehehe. semua itu membuat saya merasa lebih matang menjalani hidup.

Loncatan selanjutnya adalah Abu Dhabi. Beberapa bulan setelah wisuda di Cairo, saya berangkat menuju Abu Dhabi, bukan melanjutkan kuliah, tapi untuk bekerja. Pekerjaannya sebagai staff office di sebuah CV real estate di Abu Dhabi. Kesan pertama, saya bertemu dengan seorang wanita lebanon yang sangat ambisius sekali, perawan tua, temperamental, perokok berat. Salah satu pesan dia ke saya “ibnu,jangan kau mempercayai orang seratus persen sisakan sepuluh persen untuk tidak mempercayainya.” Hu…dia biasa kita panggil miss Claire.

Dua kali pindah kantor dan selama satu tahun setengah saya bekerja di UAE. Kantor kedua di typing service, melayani pembuatan visa dan pelbagai kartu izin bekerja di UAE dengan bos utama dari Seorang yang baik bernama Abu Fahad. Loncatan hidup ini membawaku menemukan sesuatu hal yang baru, dunia baru yaitu dunia kerja. Dunia yang terkadang tidak menghiraukan perasaan dan kemanusiaan, yang ada hanya untung dan rugi. Kau menguntungkan menjadi teman, kau merugikan tak ada hubungan.

Di dunia baru ini, saya mengalami beberapa perubahan, bisa dibilang 180 derajat berubah. Dari sebelumnya meminta uang, kini bisa saya dapat sendiri, dari sebelumnya dikirim uang kini mengirim uang, dari semula irit menjadi sedikit longgar, dari semula jarang lebih uang, ketika itu uang di tangan, uang tiap hari ada, bisa dibilang kehidupan bertolak belakang dari kehidupan ketika menjadi mahasiswa di mesir.

Pulang kampong, sejak awal bulan ramadhan saya back to kampong.kepulangan ini karena Desakan keluarga terutama ibu untuk segera pulang. Awalnya saya santai menanggapi desakan ini, tapi dalam perjalanan pulang dari bandara menuju rumah saya baru tahu sekaligus terkejut bahwa saya sudah di plot sama ibu agar tidak kembali, jangan merantau lagi ke luar negeri.

Selama bulan puasa, saya bingung dengan beberapa permasalahan, yang paling tidak nyaman ketika memikirkan kontrak professional yang belum selesai di UAE. Kontrak yang seharusnya saya harus tepati, tapi bagaimanapun setelah saya pertimbangkan, saya lebih memilih ibu ketimbang kontrak itu apapun resikonya, seperti ban (hukuman,larangan tidak boleh masuk UAE lagi selama beberapa tahun) dll.

Masalah lainnya, berkaitan dengan perobahan gaya hidup. Dulu ketika di UAE, pemasukan dan pengeluaran berimbang bahkan lebih, kini di kampong ini pengeluaranlah yang dominan. Dulu, kebutuhan apapun dapat dengan mudah saya beli, tapi kini, saya harus mengirit, saya harus menghemat. Maka saya harus lebih bijak dalam menghadapi masa pancaroba itu semua.

Kini, saya akan menetap di kampong ini, untuk kegiatan sementar menjadi petani tomat, bersama keluarga dengan senang, dengan gembira. Ibu selalu bilang “Dinah cong makeh ngakan gengan maronggi kor apol-kompol sakeluarga”–biarlah cong, walaupun makan sayur maronggi (sayur gratis di madura)di sini, tapi kita selalu berkumpul sekeluarga itu sudah nikmat-

Kamis, 07 Oktober 2010

Berbeda

Perbedaan adalah rahmat, demikian teks agama islam mengomentari tentang perbedaan. Perbedaan adalah sunnatullah, tidak menghargai perbedaan berarti kita menentang sunnatullah. Dalam perlbagai demensi kehidupan kita akan berhadapan dengan perbedaan.

Perbedaan dalam lingkup yang kecil, seperti di dalam keluarga. Sejak awal perkawinan suami istri sudah dianjurkan untuk saling melengkapi, menghargai, serta menoleransi sisi perbedaan ataupun kelebihan dan kekurangan di antara mereka, sehingga menjadi kesatuan yang menguatkan posisi sebagai keluarga yang siap menghadapi permasalahan.

Demikian juga ketika mereka sudah mempunyai keturunan, diantara buah hati tentu akan ada perbedaan baik dari tingkah laku, fisik serta kecerdasan anak. Disitulah tantangan keluarga untuk melatih anak-anak dalam perbedaan dengan didasari kasih sayang.

Perbedaan juga adalah sunnatullah. Aha…andai saja semua hal di bumi ini sama, betapa cepatnya dunia akan hancur, karena masing-masing orang akan mempunyai kehendak dan kemauan yang sama. Maka benar-benar dengan perbedaan itu, manusia antara satu dan lainnya saling menguatkan, saling melengkapi untuk membangun peradaban manusia.

Ada air, ada semen, ada batu bata. Masing-masing mempunyai kekuatan untuk memperkokoh rumah. Bagaimana kalau semuanya semen?, bagaimana kalau semuanya bata?rumah tidak akan tersusun kuat, dan dalam waktu pendek akan hancur.

Perbedaan tentunya tidak selamanya manis dan positif. Misalnya, perbedaan yang sudah melapaui batas norma masyarakat dan norma agama. Contohnya perampok, mereka berbeda secara profesi, akan tetapi pahit bagi masyarakat, dan menimbulkan efek negatif bagi Negara. Di sinilah perbedaan tidak diperlukan, karena terasa pahit.

Berbeda dalam komitmen dalam sebuah Negara, keluarga atau sebuah organisasi. Negara ini dibangun oleh sebuah kesatuan komitmen. Contohnya, antek penjajah. Sumpah pemuda adalah sebuah komitmen dari banyak kalangan pemuda untuk menyatukan bangsa. Naifnya, masihlah ada pemuda yang berbeda dalam berpikir dan berkomitmen, mereka lebih mementingkan uang dari penjajah ketimbang komitmen membangun bangsa.

Hal ini, sering terjadi juga pada keluarga dan organisasi yang kita ikuti. Mungkin karena sifat iri dan dengki dari salah satu keluarga, kemudian menghasut, menfitnah, sehingga komitmen membangun sebuah organisasi atau keluarga hancur, tentunya karena penghianatan komitmen tadi.

Semoga kita bisa berlatih untuk berbeda dengan dasar kasih saying dan menempatkan perbedaan pada porsinya.