Senin, 17 Oktober 2016

Mecca dan air susu ibu (ASI)



Tepat hari ini senin tanggal 17-10-2016, mecca dibawa ke dukun anak bernama “nyah talak” untuk menyambi saran agar mecca bisa lepas dari ikatan ASI umminya. Artinya mecca tidak lagi netek pada umminya per hari ini. Umurnya sudah dua tahun lebih, anjuran agama selama 2 tahun seorang bayi lebih bagus netek ke ibunya, lebih dari itu sebaiknya dilepaskan. Entah ini adalah proses dari kemandirian seorang anak atau lebih kepada kesehatan, namun yang jelas bagiku sebagai seorang bapak mengartikan mecca akan tumbuh sebagai anak kecil bukan bayi lagi.

Ekpresi umminya menjelang prosesi ini ada dua, sedih kepikiran dan nangis tidak tega. Ketika aku tanya mengapa? Maka konsisten dia menjawab kasihan mecca, aku gak tega mas, takut mecca nanti lemas. Mengacu pada pengalaman orang-orang terdekat maka hal semacam itu memang lumrah biasa terjadi pada seorang ibu dan seorang anak. Makanya, menanggapi kesedihan dan tangisan umminya mecca aku sudah siap sekaligus senang, karena anakku seperti anak biasanya, yaitu melewati proses semacam ini, artinya, semuanya normal.

Tidak seperti abangnya kemal, kemal hanya sekitar 2 bulan minum asi, setelah itu dia sakit tak menentu, sudah puluhan dukun anak memijat tubuh kemal, tapi tak mampu meredam tangisan yang semakin keras. Kemal akhirnya sembuh ke dukun dekat desa, yang selama ini dilupakan. Jadi bagi yang mempunyai bayi, dan bayinya tidak normal alias nangis siang malam segera pijit ke dukun anak dari yang terdekat dulu bukan yang dari jauh, karena dukun anak tergantung chimerstri atau cocok dan tidak cocok, kalau cocok meski jauh harus kita kejar, tapi kalau gak cocok meskipun dekat harus dicari yang cocok.

Akhirnya kami akan melihat apakah mecca akan bertahan dengan puasa ASI ini atau ya tidak ada atau, memang hanya satu pilihannya yaitu bertahan dan berhasil melewati proses ini. Baba doakan nak...percayalah proses ini adalah titik awal dari kemandirianmu kelak.

Senin, 10 Oktober 2016

Kemal dan cop anten



Cop anten adalah alat kecil yang dipasang untuk menyambungkan tv dan antenna, dengan itu kita akan mendapatkan gambar di tv. Berawal dari toko kami yang berjualan anten, sejak dari dia berumur dua tahun setangah sampai setahun kemudian ketika ada anten baru datang maka dapat dipastikan kemal akan meminta satu anten untuk dibawa pulang.

Di selatan rumah ada om jono yang sedang memasang anten remote jualan kami, dasar anak kecil! Habis itu kemal langsung meminta untuk dipasangkan anten juga. Menghindar dari permintaan anak jagoan saya ini {karena memang kami sudah memasang tv kabel, jadi gak ada gunanya kami memasang anten lagi}, saya kemuadian sering berdalih bahwa cop antennya tidak ada. Sampai saat ini ketika saya mau keluar kemal sering berpesan “baba melikan cop anten, jangan lupa ya ba”, atau dengan kalimat “baba bawakan cop anten yang di toko”.

Tapi berulang kali juga saya menjawab “iya mal baba belikan”, “iya mal baba bawain besok”. Begitu akrab kemal dan cop anten, begitu juga kami bermain dengan anak kami. Kami memang belum bisa membelikan mainan yang mungkin kamu sukai mal, biar kamu dan kami bermain dengan anten dan cop anten hati baba tak pernah bosen mendengarnya.
 
Pesan cop anten dirimu bagi baba adalah harapan untuk selalu cepat pulang dan memelukmu,harapanmu pada baba untuk selalu mengingatkan padamu sampai harapan itu terwujud. jawaban baba padamu yang selalu mengatakan besok adalah ungkapan baba bahwa sesulit apapun hidupmu nanti masih ada hari esok yang harus kamu songsong dengan harapan dan optimis. Jangan pernah putus asa anakku, karena kamu juga nanti harus menjalani hidup ini dengan sendiri, ya sendiri, berjalanlah dengan tegak setegak anten yang akan kamu bentangkan ke atas, tapi sekali-kali kamu liatlah ke bawah syukuri yang kamu punya.

Senin, 09 Mei 2016

Kemal dan adiknya


Pernah satu kali saya mencoba membiarkan kemal dan mecca berdua di ruang tamu. Niat pertama biar mereka bertengkar,,hehehe, terus mereka akan berteriak-teriak memanggil “baba” “baba”, karena setiap mendengar panggilan mereka berdua, diri ini seolah tak berdaya saking bahagia gembira. Niat kedua pengen tau sikap kemal atas sikap usil adiknya. Namun dua niat itu tak terwujud karena mereka ternyata tenang-tenang aja, tidak bertengkar, tidak gaduh, bahkan mecca dan kemal bergumul saling manja antar kakak dan adik. teruslah begitu sampai akhir hayat kalian, inilah kebahagiaan itu bagi seorang bapak.

Kamis, 17 Maret 2016

Nasehat kecil bagi mereka yang masih di rumah mertua

Satu, persiapkan mental, jangan terlalu sensitif dengan pembicaraan mertua atau orang lain di sekitar kalian, anggap mereka tidak pernah ngomong, dan jadilah kalian sendiri, jangan pernah menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan mereka. karena kalian akan melakukan sesuatu dengan terpaksa, atau kalian akan melakukan sesuatu dengan perasaan tidak enak dan tidak nyaman karena mertua yang nyuruh, bukan dari hati tulus kalian. So, pastikan bahwa kalian adalah diri kalian bukan orang lain.

Kedua, harus lebih bisa untuk berkompromi, bukan berarti kalian pasrah pada keinginan mertua, tapi kalian juga harus sadar bahwa kalian ini kan kasarnya “numpang” di rumah mertua, jadi level keinginan kalian dikompromikan dengan keadaan di rumah mertua. Misalkan, hari sabtu kamu ada jadwa latian futsal bersama teman-teman, tapi kebetulan di rumah kamu ada acara keluarga atau acara pengajian, dalam kondisi seperti itu lebih baik kalian tidak usah main dulu, tapi bantu-bantulah sedikit mertua, jangan sampai kita terkesan kurang menghargai mertua dengan tetap keluar untuk bermain futsal. Jadi inilah kompromi, bukan berarti mengalah ya.

Ketiga, latih kesabaran dengan mengontrol emosi, biasalah di dalam keluarga itu pasti ada semacam kondisi dimana kalian akan mengalami sedikit miskomunikasi dengan mertua, maka di waktu itu kalian enaknya bermain defensif  tahan offensife, sabar dengan menunggu kesempatan kapan kiranya keadaan itu bisa kalian atasi. Contoh yang pernah saya alami sih, di pagi hari halaman terlihat kotor, sedangkan kondisi saya tidak enak badan, maka saya tidak bisa menyapu sebagaimana hampir saya lakukan tiap hari. Melihat halam tak tersapu mungkin mertua kesel, maka mertua marah kepada anaknya dengan sedikit menyinggung saya sih “kamu nanti kalau kawin repot kalau tidak terbiasa menyapu”. Mendengar itu sempat emosi sih, tapi langsung saya kontrol emosi dan dengan menunggu dengan sabar. Alhamdulillah sore harinya kita kembali seperti semula. Karena yakinlah bahwa emosi itu hanya sekejap selanjutnya akan seperti biasa.

Keempat, usahakan jangan menunjukkan kelemahan dan sikap slengean di depan mertua, apalagi kalian sebagai pria, tunjukkan bahwa kalian memang mampu menjaga putrinya dengan baik dan bertanggung jawab. Jangan suka dengan mudah menerima pemberian mertua bahkan orang tua kalau tidak dalam keadaan terpaksa, karena dengan menerima pemberian itu kalian masih butuh bantuan. Sikap itu secara langsung akan membuat profile kalian sedikit turun. Bersikaplah di depan mertua sebagai lelaki jagan terlalu banyak bicara dan jangan terlalu pelit bicara, standar aja.

Kelima, kalian harus kenal karakter masing-masing mertua dan anggota keluarga lainnya, setelah kalian tahu baru bisa mengambil langkah strategis dalam berkomunikasi dengan anggota keluarga, tapi dalam bingkai kalian tetap menjadi diri sendiri, karena ada beberapa kasus miskomunikasi memang disebabkan oleh kurang mengenalnya sifat dan karakter masing-masing, sehingga bertabrakannya cenderung mudah.
Keenam, kalau sudah terjadi miskomunikasi yang begitu parah, cara ampuh lainnya adalah kalian menggunakan istri sebagai mediator untuk mengetengahi diantara dua ego dan sifat yang sedang berkonflik, kalian tinggal curhat ke istri, sehingga istri bisa menyampaikan dengan baik apa maksuda dan kemauan kalian kepada orang yang kita konfliki.

Insyaallah dengan langkah-langkah ini akan kehidupan kita di rumah mertua akan lebih baik lagi.

Selasa, 15 Maret 2016

Mecca dari takut menuju harapan



Ketika istri mengandung anak saya yang kedua sitti sarah mecca panggilannya mecca itu diliputi rasa tidak percaya dan cemas. Tidak percaya karena memang kami tidak merencanakan punya anak lagi, sedangkan umur anak kami yang pertama masih kurang lebih 2 tahun, kasihan istri repot mengasuh dua anak. Rencana kami ketika anak pertama berumur 5-7 tahun  baru proses penghamilan lagi, sebagai manusia saya dan istri tentu bertanya protes kepada tuhan, mengapa kok dikasih titipan anak lagi, bahkan kami punya pikiran untuk menggugurkan anak itu. Ada alasan mengapa kami ingin menggugurkan, 1. Karena kami sedikit malu, karena ketika ada orang mengandung sedangkan anak yang satunya lagi belum berumur maka cenderung dinilai negatif, sampai sekarang saya tidak tahu mengapa. 2. Karena alasan ekonomi kami yang masih belum mapan, dan lagi kerepotan yang akan dikerjakan oleh istri saya. Sedangkan saya ngajar dengan gaji yang tidak seberapa.

Cemasnya, rasa cemas juga datang ketika kandungan pertama, takut tidak lengkaplah anggota tubuhnya, takut operasi, takut idiot dls. Ketakutan kami itu memang berasalan, karena menurut orang kedokteran kawin antar sepupu berpeluang menyebabkan anaknya lemah otaknya, untuk mempunyai orga tubuh yang tidak lengkap sangat besar peluangnya. Ketakutan-ketakutan seperti itu yang membikin rasa cemas gelisah datang lagi kepada diri kami. Belum lagi beberapa aksi kekagetan yang ditunjukkan oleh sebagian anggota kami, seakan melengkapi kecemas yang kami selimuti.  

Jadi hamilnya istri untuk anak kedua ini memang satu fase ketidak percayaan dan kecemasan, yang kami lakukan hanyalah tawakkal, terus terang rasa gembiranya saya tidak segembira ketika kemal lahir, sungguh, rasa bangga saya sebagai bapak ketika istri melahirkan anak kedua tidak sebangga ketika anak pertama kami lahir, mungkin karena yang lahir anak perempuan sedangkan harapannya anak laki-laki lagi. Namun alhamdulillah fase itu bisa saya dan istri lewati. Dengan doa dan kesadaran bahwa inilah titipan allah dan tidak boleh kami acuhkan.

sekarang mecca sudah menjadi anak cerdas dan tidak cengeng seperti abang kemalnya, baru berumur 1,5 tahun dia sudah bisa mengerti apa yang kita suruh,bisa berjalan lebih cepat dari abangnya, dia sudah bisa bernyanyi walaupun terpenggal-penggal, dia sudah bisa menirukan video anak kecil yang dia tonton. Sungguh sangat membanggakan, sungguh sangat memberikan harapan bahwa anak ini anak yang bisa membanggakan kedua orang tuanya insyaallah.

Senin, 14 Maret 2016

Kemal mulai suka musik

Semenjak diperkenalkan oleh om fiqi dan mas faqih film boy atau judul aslinya anak jalanan, kemal menjadi keranjingan pada dua hal, pada filmnya dan pada gaya musiknya ketika sountrack film itu terdengar. Di awal-awal setiap habis maghrib dia langsung nongkrong di depan tv sambil minta dipilihin chanel RCTI menunggu film itu tayang,saya pikir sebagai orang tua tidak apalah saya biarkan nonton ketimbang nangis, namun akhir-akhir ini kebiasaan jelek itu alhamdulillah bisa direm dengan dipaksa untuk mengaji dulu sebelum nonton tv. Toh walaupun penuh dengan cucuran air matanya kemal kami tetap memaksa sambil diberikan pengertian umminya bahwa mengaji lebih utama daripada nonton film. 

Cara membujuknya dengan berbagai cara. Pertama dengan membelikan es krim dulu, kalau mau makan es krim harus ngaji dulu, setelah ngaji baru makan sambil nonton film. Kedua, dengan memberikan pengertian bahwa kemal kalau mau menjadi seperti boy di dalam film itu maka kemal harus ngaji, karena boy pintar kalau kemal bodoh bagaimana kemal mau jadi seperti boy, jadi harus ngaji. Bujukan kedua ini terkadang manjur-terkadang tidak, tergantung mood nya kemal, heee..ketiga, dengan sedikit memaksa atau bahkan dengan little hard force sampai air matanya bercucuran, terkadang hati juga ikut menangis, terkadang dalam hati juga ingin berkata kepada kemal “baba dan ummi pingin kemal langsung pintar tidak usah dipaksa seperti ini sampai kemal nangis, tapi demi masa depanmu kami harus melakukan ini”. dari sini juga saya baru tahu bahwa anak dalah separuh dari orang tua, jadi apapun yg terjadi pada anak kita tetap orang tua yang akan membela. 

Kemudian pada gaya bermusiknya, kemal sering menirukan orang bermain gita mengikuti irama musiknya. Awalnya kami tidak percaya kemal bisa melakukan seperti itu, karena kami memang tidak pernah mengajarkan hal itu kepada kemal. Mungkin betul kata orang bahwa jangan perlihatkan sesuatu yang jelek kepada anak kecil karena mereka gampang meniru,demikian juga yang terjadi pada kemal menirukan gaya bermusik, dia menonton kemudian meniru seolah-olah dialah penyanyinya, semua orang di keluarga kami pada tertawa. Alhamdulillah kami mem-vidiokannya. Dari sini juga kami waspada akan tontonan2 tv pada anak kami. 

Dari sini juga, saya melihat kecenderungan awal kemal suka musik, maka saya langsung chat lewat wa teman yang pandai dalam musik,saya pingin kemal belajar orgen lebih dulu, karena orgen lain dengan gitar, kalau orgen tidak butuh luka dulu untuk bisa tapi kalau gitar butuh luka dulu untuk bisa. Saya tanya pada teman tentang kesanggupannya, alhamdulillah ternyata sanggup tapi nunggu studio musiknya di jalan jokotole selesai, tiba-tiba muncul bayangan di atas kepala bagaiamana nanti kemal memainkan lagu soundtrack boy untuk saya, bagaimana kemal nanti mempunyai nilai plus diantara teman-temannya yang lain, dengan nilai plus itu saya berharap bisa menghapus rasa malu dan ketidak percayaan diri di dalam diri kemal. Terus saya juga iseng-iseng tanya harga orgen berapa, dia jawab kalau untuk belajar yang dua dan tiga jutaan sudah cukup, saya pikir insyaallah kalau cuman harga segitu saya bisa beli. 

Ohya, kemal juga sangat suka sekali dengan habib syekh yang menyanyikan lagu ya hanana, atau yang biasa kemal sebut “lagu nana ba”. Dari kira-kira umur 2 tahun kalau disetel lagu itu pasti kemal sedikit-sedikit bisa mengikuti lirik dan gerakan musik habib syekh itu. Insyaallah nak.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Masa Peralihan

Tiga belas tahun, ya selama tiga belas tahun saya keluar dari rumah dan desa ini. Mungkin hanya sesekali saja saya mudik, itupun ketika liburan dan dalam momen2 tahunan tertentu. Awal perjalanan setalah lulus SD (Sekolah Dasar) di mulai dari “Asrama Sekolah” di SLTP Muhammadiyah 1 Pamekasan. Tiga tahun tinggal di sana, walaupun dekat, tapi aturan dan kegiatan asrama tak memperbolehkan saya lantas bebas pulang tiap hari.

Di asrama, saya diarahkan untuk menjadi kader Muhammadiyah yang baik dengan segala kegiatannya. dari situ juga saya merasakan masa peralihan, dari anak desa menjadi anak kota, dari masa permainan ke hal yang sedikit lebih serius, dari masa bersama family ke kesendirian yang terkadang terselimut kerinduan pada keluarga, tak heran jika saya sering menangis pada masa-masa itu.

Kemudian, persinggahan kedua adalah PP AL-AMIEN PRENDUAN. Pada masa ini sangat berat sekali. Bahkan saya sempat membenci almarhum bapak karena beliau selalu memaksa saya untuk mondok. Oh…mengingat itu (maafkan ibnu bapak). “Kamu Mati di Pondok ini saya ikhlas cong, tak ada pilihan lain buat kamu selain mondok” ucap bapak ketika saya hamper tiap hari menelpon untuk mengadu sama ibu karena tidak kerasan. Saya mondok lima tahun dengan pengabdian.

Di pondok ini, saya diarahkan untuk menjadi muslim yang baik, muslim yang toleran, muslim lintas mazhab, muslim yang menekankan islam sebagai rahmatan lil alamin, muslim yang tidak gaptek dan kuper, muslim yang modern. Awal pertama, saya mengalami masa transisi itu, dari pergaulan lingkup kecil menjadi lebih luas, dari semi disiplin menjadi high disiplin dengan pengawasan dari peraturan dan ketatnya pengawasan dari pengurus pondok, dari banyak ketidak tahuan diri menjadi tahu diri, sesekali saya menjadi idealis. Tapi yang terpenting di sini, saya lebih tahu arti hidup di sini, di pondok ini, baik dengan membaca atau mendengar tausiah dari kiai.

Tangga hidup selanjutnya adalah Cairo Mesir, Al-Azhar University. Tahap ini saya anggap sebagai tahap pematangan. Sebaliknya, tidak ada kesedihan apapun ketika saya mau kuliah ke kairo. Saya merasakan nikmatnya merantau, saya merasakan apa yang saya benci dulu “mondok” dalam artian belajar hidup, belajar mandiri. Apalagi ini luar negeri…hu…senang sekali.

Alhamdulillah, kuliah berjalan dengan mulus dan bisa lulus tepat waktu. banyak pengalaman menarik di mesir, pengalaman bersosialisasi dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara, pengalaman akademik dan ritual, seperti bagaimana saya pernah kena tipu tiket laga Ahly Vs Barcelona oleh teman sendiri orang mesir, bagaimana berinteraksi dengan teman-teman dari kulit benua hitam (afrika), ada juga sedikit pengalaman cinta di sana, tapi selalu kandas..hehehe. semua itu membuat saya merasa lebih matang menjalani hidup.

Loncatan selanjutnya adalah Abu Dhabi. Beberapa bulan setelah wisuda di Cairo, saya berangkat menuju Abu Dhabi, bukan melanjutkan kuliah, tapi untuk bekerja. Pekerjaannya sebagai staff office di sebuah CV real estate di Abu Dhabi. Kesan pertama, saya bertemu dengan seorang wanita lebanon yang sangat ambisius sekali, perawan tua, temperamental, perokok berat. Salah satu pesan dia ke saya “ibnu,jangan kau mempercayai orang seratus persen sisakan sepuluh persen untuk tidak mempercayainya.” Hu…dia biasa kita panggil miss Claire.

Dua kali pindah kantor dan selama satu tahun setengah saya bekerja di UAE. Kantor kedua di typing service, melayani pembuatan visa dan pelbagai kartu izin bekerja di UAE dengan bos utama dari Seorang yang baik bernama Abu Fahad. Loncatan hidup ini membawaku menemukan sesuatu hal yang baru, dunia baru yaitu dunia kerja. Dunia yang terkadang tidak menghiraukan perasaan dan kemanusiaan, yang ada hanya untung dan rugi. Kau menguntungkan menjadi teman, kau merugikan tak ada hubungan.

Di dunia baru ini, saya mengalami beberapa perubahan, bisa dibilang 180 derajat berubah. Dari sebelumnya meminta uang, kini bisa saya dapat sendiri, dari sebelumnya dikirim uang kini mengirim uang, dari semula irit menjadi sedikit longgar, dari semula jarang lebih uang, ketika itu uang di tangan, uang tiap hari ada, bisa dibilang kehidupan bertolak belakang dari kehidupan ketika menjadi mahasiswa di mesir.

Pulang kampong, sejak awal bulan ramadhan saya back to kampong.kepulangan ini karena Desakan keluarga terutama ibu untuk segera pulang. Awalnya saya santai menanggapi desakan ini, tapi dalam perjalanan pulang dari bandara menuju rumah saya baru tahu sekaligus terkejut bahwa saya sudah di plot sama ibu agar tidak kembali, jangan merantau lagi ke luar negeri.

Selama bulan puasa, saya bingung dengan beberapa permasalahan, yang paling tidak nyaman ketika memikirkan kontrak professional yang belum selesai di UAE. Kontrak yang seharusnya saya harus tepati, tapi bagaimanapun setelah saya pertimbangkan, saya lebih memilih ibu ketimbang kontrak itu apapun resikonya, seperti ban (hukuman,larangan tidak boleh masuk UAE lagi selama beberapa tahun) dll.

Masalah lainnya, berkaitan dengan perobahan gaya hidup. Dulu ketika di UAE, pemasukan dan pengeluaran berimbang bahkan lebih, kini di kampong ini pengeluaranlah yang dominan. Dulu, kebutuhan apapun dapat dengan mudah saya beli, tapi kini, saya harus mengirit, saya harus menghemat. Maka saya harus lebih bijak dalam menghadapi masa pancaroba itu semua.

Kini, saya akan menetap di kampong ini, untuk kegiatan sementar menjadi petani tomat, bersama keluarga dengan senang, dengan gembira. Ibu selalu bilang “Dinah cong makeh ngakan gengan maronggi kor apol-kompol sakeluarga”–biarlah cong, walaupun makan sayur maronggi (sayur gratis di madura)di sini, tapi kita selalu berkumpul sekeluarga itu sudah nikmat-

Kamis, 07 Oktober 2010

Berbeda

Perbedaan adalah rahmat, demikian teks agama islam mengomentari tentang perbedaan. Perbedaan adalah sunnatullah, tidak menghargai perbedaan berarti kita menentang sunnatullah. Dalam perlbagai demensi kehidupan kita akan berhadapan dengan perbedaan.

Perbedaan dalam lingkup yang kecil, seperti di dalam keluarga. Sejak awal perkawinan suami istri sudah dianjurkan untuk saling melengkapi, menghargai, serta menoleransi sisi perbedaan ataupun kelebihan dan kekurangan di antara mereka, sehingga menjadi kesatuan yang menguatkan posisi sebagai keluarga yang siap menghadapi permasalahan.

Demikian juga ketika mereka sudah mempunyai keturunan, diantara buah hati tentu akan ada perbedaan baik dari tingkah laku, fisik serta kecerdasan anak. Disitulah tantangan keluarga untuk melatih anak-anak dalam perbedaan dengan didasari kasih sayang.

Perbedaan juga adalah sunnatullah. Aha…andai saja semua hal di bumi ini sama, betapa cepatnya dunia akan hancur, karena masing-masing orang akan mempunyai kehendak dan kemauan yang sama. Maka benar-benar dengan perbedaan itu, manusia antara satu dan lainnya saling menguatkan, saling melengkapi untuk membangun peradaban manusia.

Ada air, ada semen, ada batu bata. Masing-masing mempunyai kekuatan untuk memperkokoh rumah. Bagaimana kalau semuanya semen?, bagaimana kalau semuanya bata?rumah tidak akan tersusun kuat, dan dalam waktu pendek akan hancur.

Perbedaan tentunya tidak selamanya manis dan positif. Misalnya, perbedaan yang sudah melapaui batas norma masyarakat dan norma agama. Contohnya perampok, mereka berbeda secara profesi, akan tetapi pahit bagi masyarakat, dan menimbulkan efek negatif bagi Negara. Di sinilah perbedaan tidak diperlukan, karena terasa pahit.

Berbeda dalam komitmen dalam sebuah Negara, keluarga atau sebuah organisasi. Negara ini dibangun oleh sebuah kesatuan komitmen. Contohnya, antek penjajah. Sumpah pemuda adalah sebuah komitmen dari banyak kalangan pemuda untuk menyatukan bangsa. Naifnya, masihlah ada pemuda yang berbeda dalam berpikir dan berkomitmen, mereka lebih mementingkan uang dari penjajah ketimbang komitmen membangun bangsa.

Hal ini, sering terjadi juga pada keluarga dan organisasi yang kita ikuti. Mungkin karena sifat iri dan dengki dari salah satu keluarga, kemudian menghasut, menfitnah, sehingga komitmen membangun sebuah organisasi atau keluarga hancur, tentunya karena penghianatan komitmen tadi.

Semoga kita bisa berlatih untuk berbeda dengan dasar kasih saying dan menempatkan perbedaan pada porsinya.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Seandainya


Andai-andai pertama adalah Syeikh Mohammed Bin Rashid Al Maktoum menjadi Presiden dari negeri ini, atau paling tidak menjadi gubernur Madura, kalau seandainya Madura menjadi provensi. Tidak terbayang moderenitas yang akan beliau bangun, mungkin akan menjadi megah melebihi dubai atau Negara-negara arab teluk sekarang.
Bukti nyata dari visi beliau adalah Dubai (http://en.wikipedia.org/wiki/Dubai). Dubai yang beberapa puluh tahun silam masih berupa hamparan pasir, sekarng sudah menjadi kilauan dunia modern arab. Bangunan-bangunan ataupun pariwisata yang mereka bangun menjadi santapan para bintang Hollywood. Tidak berlebihan kan kalau saya berandai demikian, apalagi Indonesia bukan hamparan pasir, Indonesia adalah lautan bumi indah yang segalanya menjadi potensi kemoderenan.
Sumber Daya Alam tidaklah sekaya Indonesia, Dubai yang beliau pimpin bukan kaya dari minyak dibanding Negara-negara arab lainnya. Kalau kita bandingkan dengan Indonesia, Indonesia bukan hanya kaya minyak tapi kaya akan segalanya, ada gas,mas, kekayaan maritim dll. Huh..entah akan disulap seperti apa jika Indonesia berada di tangan beliau. Pasti akan dahsyat.
Pariwisata adalah andalan dubai untuk saat ini. Tak heran, jika salah satu televise china mewancarai beliau dan bertanya “mengapa anda selalu memungkinkan hal-hal yang tidak mungkin?.” Pertanyaan itu mungkin berdasar atas objek pariwisata yang memang bukan aslinya, semuanya hasil karya alat-alat berat modern, sehingga bisa mengubah padang pasir menjadi seperti Palm Jumairah (Apartemen di tengah-tengah lautan), burj dubai dll.
Bayangkan kalau pemikiran-pemikiran macam itu diletakkan di Indonesia, Indonesia yang memiliki ratusan objek pariwisata, Indonesia yang beraneka macam budaya, akan menjadi apakah Indonesia? Yang pasti, Indonesia akan menjadi Negara majikan yang akan mempekerjakan orang dan bukan Negara pembantu atau kuli yang hanya akan disiksa dan diperkosa.
Sosok syeikh Maktoum sangat familiar (http://www.sheikhmohammed.co.ae), bagi saya beliau merupakan wujud nyata dari “Manusia Modern Yang tak lupa kulitnya”. Apalagi setelah membaca buku beliau, hal itu menambah apresiasi  saya atas beliau. Beliau bisa gaul, dan juga bisa tegas. Makan bersama rakyat dengan tradisi arab merupakan hal yang biasa buat beliau, beliau juga seorang “Penggila sekaligus Olahragawan Balap Kuda,” konon beliau memiliki beberapa area pacuan kuda di luar dubai.
Visi beliau sangat terlihat sekali dari beberapa wawancara dengan beberapa stasion televisi: I want to be number one, not only in this area but in the world. Bahkan oleh salah satu pengamat beliau di sebut orang “ambition without limit”. Sepertinya di dalam pikiran beliau tidak ada sisi negative di dunia ini, seperti kemustahilan, semuanya serba mungkin, semuanya serba bisa kita lakukan, asalkan dengan usaha dan kerja keras.